25 Oktober 2025 | Dilihat: 793 Kali

Pasar Klewer Solo: Dari Kain “Kleweran” hingga Pusat Batik Terbesar Jawa Tengah

Pasar Klewer Solo: Dari Kain “Kleweran” hingga Pusat Batik Terbesar Jawa Tengah

AthiaNews.id || Solo – Bagi para pecinta batik, nama Pasar Klewer di Kota Solo sudah tak asing lagi. Pasar tradisional ini merupakan pusat grosir batik terbesar di Jawa Tengah, menawarkan beragam kain batik, mulai dari batik tulis halus, batik cap, hingga tekstil lainnya dengan harga terjangkau. Namun, tahukah Anda asal-usul nama "Klewer" yang melekat pada pasar legendaris ini?

Nama "Klewer" ternyata berasal dari sebuah pemandangan khas yang terlihat pada awal berdirinya pasar. Konon, para pedagang zaman dahulu menjajakan kain dengan cara memikulnya di pundak, sehingga kain-kain tersebut menjuntai ke bawah. Dalam bahasa Jawa, kain yang berjuntai-juntai itu disebut "kleweran". Dari situlah, tercipta nama Pasar Klewer yang kita kenal hingga hari ini.

Awalnya, para pedagang berkumpul di pelataran parkir kereta kuda milik tamu yang hendak menghadap Raja Keraton Kasunanan Surakarta. Seiring waktu, jumlah pedagang semakin bertambah, dan pemandangan kain-kain yang "kleweran" pun kian dominan. Nuansa inilah yang kemudian diabadikan sebagai nama pasar.

Sejarah panjang Pasar Klewer terus berlanjut. Pemerintah Daerah setempat akhirnya membangun pasar permanen berlantai dua untuk menampung para pedagang yang kian banyak. Pada 9 Juni 1970, Pasar Klewer diresmikan oleh Presiden Soeharto, mengukuhkannya sebagai pusat perdagangan batik yang signifikan.

Lokasi Pasar Klewer yang strategis, terletak di antara dua ikon budaya Kota Solo, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung Surakarta, membuatnya tak pernah sepi pengunjung.

Di sini, pengunjung dapat menemukan segala jenis batik, mulai dari baju, kebaya, daster, hingga pakaian anak-anak. Tak hanya batik, pasar ini juga menawarkan kain lurik dan tekstil lainnya dengan beragam kualitas dan warna.

Tak lengkap rasanya berkunjung tanpa mencicipi oleh-oleh khas Solo yang melegenda, seperti intip, ampyang, brem, dan aneka kue tradisional lainnya yang mungkin sulit ditemukan di kota lain.

Namun, yang paling berkesan dari Pasar Klewer adalah interaksi hangat antara pedagang dan pembeli. Pedagang menyapa dengan ramah, dan proses tawar-menawar pun diwarnai nuansa kekeluargaan yang kental.

Bagi warga Solo, Pasar Klewer bukan sekadar tempat jual-beli, tetapi juga wadah “paseduluran” (persaudaraan) dan aktualisasi diri, terutama bagi perempuan pedagang batik yang gesit dan lincah.

Sayangnya, pada 27 Desember 2014, musibah kebakaran hebat menghanguskan sebagian besar Pasar Klewer, termasuk ribuan lapak pedagang. Selama masa pemulihan, para pedagang dipindahkan sementara ke halaman alun-alun utara Keraton Solo.

Pertanyaan besar kini menghinggapi banyak pihak: Setelah pembangunan kembali yang memakan waktu hampir dua tahun, akankah nuansa keharmonisan dan interaksi indah di Pasar Klewer tetap sama seperti dahulu?

Simak ulasan selanjutnya tentang Pasar Klewer Pasca Kebakaran dalam tulisan mendatang. (Athia)