Athianews.id || Solo – Gusti Raden Mas (GRM) Soeryo Saroso, putra ke-19 dari Susuhunan Pakubuwono XII dari Keraton Surakarta, meninggal dunia pada Rabu, 26 November 2025, pukul 22.30 WIB, di RSUD dr. Moewardi dalam usia 69 tahun. Pria yang akrab disapa Gusti Jani itu meninggalkan duka mendalam, sekaligus kisah hidupnya yang penuh warna dan kesederhanaan.
Kenangan akan sosoknya yang unik terukir jelas, seperti saat suasana duka melanda keraton pada Rabu, 5 November 2025, untuk pemakaman kakak kandungnya, Susuhunan Pakubuwono XIII.
Di antara lautan tamu takziah yang berpakaian lengkap, seorang lelaki rambut putih dengan kemeja biru muda, jas abu-abu, dan dasi yang serasi, mencolok karena alas kakinya: sepasang sandal jepit kuning.

Senyum lembut dan tatapan matanya yang teduh memancarkan ketenangan dan kesan seorang yang telah melalui banyak perjalanan hidup. Setelah diam-diam mengamati, seorang kerabat yang setia mendampinginya membenarkan bahwa lelaki itu adalah Gusti Jani, adik mendiang Pakubuwono XIII yang akan dimakamkan hari itu.
“Piyambakipun ingkang ngersakaken kados mekaten” (Beliau sendiri yang menghendaki seperti itu), ujar seorang kerabat lain, menjawab keingintahuan tentang penampilannya yang bersahaja. Aura ketenangan dan kewibawaannya sebagai putra keraton tak tertutupi oleh kesederhanaan yang dipilihnya.
Seniman dan Chef di Atas Kapal Pesiar
Menurut GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, putri Pakubuwono XII, Gusti Jani adalah sosok seniman berbakat.
“Gusti Jani pintar bermain gitar dan mengaransemen lagu. Kami pernah membentuk vokal grup dan beberapa kali manggung,” kenang Gusti Moeng.
Setelah lulus SMA, Gusti Jani merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sebelum akhirnya bekerja sebagai koki profesional di sebuah kapal pesiar yang berlayar ke Jepang. Profesi inilah yang, sayangnya, berdampak pada keharmonisan rumah tangganya.
“Bisa enam atau delapan bulan sekali pulang. Ini yang membuat goyah rumah tangganya dan akhirnya bercerai,” tutur Gusti Moeng. Gusti Jani dikabarkan memiliki empat orang anak dari pernikahan tersebut.
.jpeg)
Kembali ke Solo dan Menutup Diri
Setelah bercerai dan tidak lagi bekerja di kapal, Gusti Jani memilih kembali ke Solo dan tinggal di kawasan Baluwarti. Duka kembali menyelimutinya setelah ditinggal wafat oleh istri dan putra kesayangannya. Peristiwa pilu itu mengubahnya menjadi pribadi yang lebih pendiam.
Gusti Jani lebih memilih untuk melewatkan waktunya dalam kesunyian, hanya berbicara lancar dengan orang-orang tertentu. Selebihnya, senyum dan sorot mata teduhnya yang berbicara. Ia sering terlihat berjalan-jalan di sekitar keraton. Gusti Moeng kerap menyapanya dan mengajaknya untuk bermain gitar di Bangsal Smarakata, di mana ia pun kemudian akrab dengan para abdi dalem.
“Saya yang paling kehilangan karena beliau sering berada di keraton. Sekarang kan keraton kosong,” kata Gusti Moeng, menyampaikan rasa kehilangannya yang mendalam.
.jpeg)
Pesan Terakhir dan Harapan
Sebelum meninggal, Gusti Jani kerap memberi pesan kepada Gusti Moeng untuk selalu sabar dalam menjalani hidup. Gusti Moeng berharap anak-anak Gusti Jani dapat kembali mendekat ke keluarga besar keraton untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Keraton Surakarta.
Gusti Jani dimakamkan di Pemakaman Ki Ageng Henis, Laweyan, Solo, pada Kamis, 27 November 2025. Kepergiannya meninggalkan pelajaran tentang pilihan hidup yang bersahaja, keteduhan, dan kesetiaan pada akar budaya, jauh dari gemerlap duniawi yang sering diasosiasikan dengan keluarga keraton.
Sugeng tindak, Gusti Jani. Suargo Langgeng Ing Palereman. (Athia)