15 Maret 2026 | Dilihat: 75 Kali

Habib Ahmad Al-Kaf: Ramadhan Tanpa Bekas Adalah Kerugian Besar

Habib Ahmad Al-Kaf: Ramadhan Tanpa Bekas Adalah Kerugian Besar
Prof. Dr. Al-Habib Ahmad Al-Kaf

Athianews.id || Jakarta – Bulan Ramadhan bagaikan "musim tanam" pahala yang hanya datang setahun sekali. Jika berlalu tanpa meninggalkan perubahan dalam diri seorang muslim, maka itulah kerugian yang sesungguhnya. Demikian inti tausiah Subuh yang disampaikan Prof. Dr. Al-Habib Ahmad Al-Kaf di Masjid Al-Isra, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (15/3/2026).

Di hadapan jamaah yang memenuhi saf-saf masjid, Habib Ahmad mengingatkan bahwa memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, setiap muslim hendaknya melakukan evaluasi diri. Ia memaparkan tiga indikator seseorang "tidak memperoleh apa-apa" dari Ramadhan.

"Pertama, tidak ada perubahan sikap—ibadah, tutur kata, dan hubungan sosial tetap sama seperti sebelum Ramadhan. Kedua, tidak ada peningkatan ketakwaan dan kesadaran akan ampunan, padahal malam-malam Ramadhan penuh maghfirah. Ketiga, melewatkan Lailatul Qadar tanpa persiapan hati," ujar Habib Ahmad.

Sebaliknya, ia menjelaskan tanda-tanda sederhana bahwa Ramadhan telah membekas dalam diri seseorang.

"Tanda sederhana: pasca-Ramadhan kita lebih rutin salat dan zikir, lebih menjaga lisan, dan lebih ringan bersedekah walau kecil. Bila satu kebiasaan baik bertahan, Ramadhan tidak sia-sia," tegasnya.

Makna I'tikaf di 10 Malam Terakhir
Dalam tausiahnya, Habib Ahmad juga mengupas makna I'tikaf yang menjadi amalan khas di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa I'tikaf adalah mengasingkan diri di masjid untuk fokus beribadah—salat, zikir, tilawah, dan doa.

"I'tikaf di sepuluh hari akhir Ramadhan punya nilai khusus karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW senantiasa beri'tikaf di periode ini, bahkan 20 hari pada tahun wafatnya," paparnya.

Habib Ahmad menambahkan bahwa I'tikaf juga berfungsi membersihkan hati dengan mengurangi bicara dan urusan dunia, sehingga doa menjadi lebih khusyuk.

"Ini adalah retret spiritual singkat—mengunci diri di masjid, memperbanyak amal, berharap ampunan dan Lailatul Qadar," jelasnya.

Gas Maksimal di Lima Hari Terakhir
Memasuki lima hari akhir Ramadhan, Habib Ahmad mendorong jamaah untuk "tancap gas" dalam beribadah. Ia memberikan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan:
1. Menambah 2 rakaat qiyam setiap malam dan 1–2 halaman tilawah seusai Subuh
2. Memanfaatkan waktu emas menjelang Magrib dan sepertiga malam terakhir untuk istighfar serta doa
3. Bersedekah setiap hari meski dengan nominal kecil
4. Menjaga lisan dan mata dengan mengurangi debat serta media sosial yang tidak bermanfaat, menggantinya dengan zikir
5. Meniatkan I'tikaf—walau hanya beberapa jam—untuk mengejar malam-malam ganjil

"Anggap ini akad baru: bila besok Idulfitri, kebiasaan baik apa yang akan kita bawa terus? Itulah ukuran iman naik," pesan Habib Ahmad mengakhiri tausiahnya.

Jamaah Masjid Al-Isra yang hadir tampak khusyuk menyimak nasihat tersebut. Sebagian mengaku terinspirasi untuk lebih memaksimalkan sisa waktu Ramadhan dengan berbagai amalan.

Acara tausiah Subuh ini merupakan rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Al-Isra yang sebelumnya juga menjadi lokasi Safari Ramadhan Walikota Jakarta Pusat bersama masyarakat Johar Baru. (Red)