12 Maret 2026 | Dilihat: 32 Kali

UNS Berikan Penghargaan Tertinggi Dies Natalis ke-50 kepada Prof. Emil Salim

UNS Berikan Penghargaan Tertinggi Dies Natalis ke-50 kepada Prof. Emil Salim

Athianews.id || Surakarta – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menganugerahkan penghargaan UNS Award 2026 kepada ekonom senior dan tokoh lingkungan hidup, Prof. H. Emil Salim, S.E., M.A., Ph.D., dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-50 UNS, di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Rabu (11/3/2026).

Penghargaan bergengsi "Parasamya Anugraha Widayatama Taru Tirta Bawana" diberikan UNS kepada Prof. Emil Salim atas integritas, prestasi, kepeloporan, serta kontribusi luar biasanya dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si., menyampaikan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan tradisi tahunan UNS dalam setiap peringatan Dies Natalis untuk mengapresiasi tokoh bangsa yang dinilai memiliki kontribusi signifikan.

"Parasamya Anugraha Widayatama Taru Tirta Bawana merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan UNS atas integritas, prestasi, kepeloporan, dan pemajuan yang luar biasa dalam bidang pelestarian lingkungan," terang Prof. Hartono.

Tema Dies Natalis ke-50 UNS tahun ini adalah "Lima Dasawarsa Berbakti Kepada Negeri, Fondasi untuk Akselerasi Prestasi yang Berdampak dan Berkelanjutan".

Menurut Rektor, penghargaan kepada Prof. Emil Salim sejalan dengan tema tersebut, sekaligus menegaskan komitmen UNS dalam mengarusutamakan nilai-nilai keberlanjutan di lingkungan perguruan tinggi.

"Kami berharap dedikasi dan perjuangan panjang beliau dalam upaya pelestarian lingkungan dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi kita bersama. Penghargaan ini juga merupakan wujud komitmen UNS dalam upaya pembangunan berkelanjutan," imbuhnya.

Pesan Prof. Emil Salim: Lestarikan Sumber Daya Alam
Penghargaan diterima langsung oleh putri Prof. Emil Salim, Amelia Salim, karena tokoh lingkungan hidup tersebut berhalangan hadir. Dalam sambutan virtual yang diputarkan di hadapan sidang senat, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya pelestarian sumber daya alam Indonesia.

"Sumber daya alam perlu kita lestarikan, menjaga terutama di Indonesia yang memiliki iklim tropis dan kekayaan alam yang begitu beragam dan membuat khasiat-khasiat obat-obatan, makanan yang begitu berguna bagi umat manusia, bukan hanya bagi manusia Indonesia," pesannya.

Jejak Panjang Sang Tokoh Lingkungan
Prof. Emil Salim, lahir di Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930, adalah seorang ekonom dan politikus yang dikenal luas sebagai tokoh intelektual yang konsisten memperjuangkan isu lingkungan hidup. Ia tercatat sebagai menteri dengan masa jabatan terlama berturut-turut di Indonesia.

Karirnya di pemerintahan dimulai sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973), kemudian Menteri Perhubungan (1973-1978), Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1978-1983), dan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (1983-1993).

Di kancah internasional, Prof. Emil Salim pernah menerima penghargaan The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) serta Blue Planet Prize dari The Asahi Glass Foundation pada tahun 2006.

Pada tahun 1994, bersama koleganya, ia mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati atau Kehati, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup.

Prof. Emil Salim juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 10 April 2007, dan pada 25 Januari 2010 dilantik kembali untuk periode kedua sekaligus menjadi ketuanya. Hingga kini, ia merupakan salah satu dari sedikit tokoh yang aktif berkarier lintas zaman.

UNS Award 2026 ini diharapkan mampu mengakselerasi kontribusi UNS dalam mendorong kemandirian bangsa, sekaligus meneguhkan jati diri UNS sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang memberikan manfaat positif dan nyata bagi masyarakat melalui inovasi yang berdampak dan berkelanjutan. (Red)